Bandhan Melampaui Batas: Apa yang Harus Indonesia dan India Bangun Bersama Selanjutnya?

vritimes
12 Agu 2026 11:18
NASIONAL 0 9
8 menit membaca

Jakarta — Jauh sebelum rantai pasok menghubungkan pabrik-pabrik kita dan investasi mempererat hubungan ekonomi kedua negara, Samudra Hindia telah membawa sesuatu yang jauh lebih berharga antara Indonesia dan India, yaitu kepercayaan. Kapal-kapal dagang yang memanfaatkan angin muson memang mengangkut rempah-rempah, tekstil, dan berbagai kisah peradaban, tetapi pada saat yang sama juga membawa sebuah gagasan yang mampu bertahan melampaui pergantian zaman: bahwa kemakmuran akan tumbuh jauh lebih kuat apabila dibangun bersama melintasi batas negara, bukan ketika dinikmati secara eksklusif oleh masing-masing pihak.

Semangat tersebut kemudian memperoleh makna politik ketika India menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan memberikan dukungan kepada republik muda yang tengah mencari tempatnya di tengah masyarakat internasional. Sejarah mengenang peristiwa tersebut sebagai diplomasi. Namun bagi dunia usaha, momen itu memiliki arti yang berbeda: sebuah investasi awal dalam membangun kepercayaan, aset paling penting yang selalu menjadi fondasi setiap kemitraan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia, setelah lawatan bersejarah Presiden Prabowo Subianto ke India pada awal tahun ini, memberikan kesempatan untuk memperbarui kepercayaan tersebut agar tetap relevan dengan tantangan zaman yang baru. Perdagangan, investasi, dan arus modal tentu akan selalu menjadi bagian penting dari hubungan kedua negara. Namun, kemitraan ekonomi yang paling kuat pada akhirnya tidak dibangun hanya melalui transaksi, melainkan melalui aturan yang disepakati bersama, infrastruktur yang dipercaya, serta ekosistem yang memungkinkan seluruh pelaku usaha—bukan hanya perusahaan-perusahaan besar—untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang secara bersama-sama. Menurut saya, inilah visi yang seharusnya menjadi arah utama hubungan Indonesia–India pada masa mendatang.

Kisah yang Jauh Lebih Besar dari Angka Statistik

Jika pasar merupakan cerminan paling nyata dari tingkat kepercayaan, maka Indonesia dan India sesungguhnya telah memiliki fondasi yang sangat kuat. India kini menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke India mencapai sekitar US$18,3 miliar, sementara impor dari India mencapai US$4,7 miliar, menjadikan India sebagai salah satu dari sepuluh sumber impor terbesar bagi Indonesia. Hubungan dagang kedua negara terus berkembang seiring semakin saling melengkapinya struktur ekonomi masing-masing, didukung pula oleh keberadaan ASEAN–India Free Trade Area yang telah berlaku sejak 2010.

Namun, terdapat satu angka yang justru lebih menarik untuk diperhatikan. Pada 2025, total perdagangan Indonesia–India masih menyumbang kurang dari 5 persen terhadap keseluruhan perdagangan internasional Indonesia. Angka tersebut bukan menunjukkan lemahnya hubungan ekonomi kedua negara. Sebaliknya, angka itu memperlihatkan betapa besarnya ruang yang masih tersedia untuk memperdalam integrasi ekonomi di masa depan.

Karakter ekonomi kedua negara juga semakin menunjukkan sifat yang saling melengkapi. Indonesia memasok berbagai komoditas strategis yang menopang ekspansi industri India, mulai dari bahan bakar mineral, minyak nabati, besi dan baja, bahan kimia anorganik, hingga berbagai bahan baku industri lainnya. Sebaliknya, India memasok mesin industri, komponen otomotif, peralatan listrik, bahan kimia organik, serta berbagai teknologi manufaktur yang mendukung transformasi industri Indonesia. Hubungan tersebut tidak lagi sekadar berupa pertukaran barang, melainkan mulai membentuk rantai pasok dan rantai nilai yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pola yang sama juga terlihat pada sektor investasi. Investasi langsung asing (FDI) dari India ke Indonesia mencapai sekitar US$3,8 miliar pada 2025, meningkat lebih dari 358 persen dalam lima tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan India kini semakin aktif berinvestasi di berbagai sektor seperti pertambangan, mineral kritis, pembangkit energi, industri logam, manufaktur otomotif, rekayasa teknik, industri kimia, jasa keuangan, hingga barang konsumsi. Ragam sektor tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–India tidak hanya semakin luas, tetapi juga semakin dalam dan berorientasi pada kolaborasi industri jangka panjang.

Meningkatkan nilai perdagangan tentu tetap penting. Namun, tantangan yang jauh lebih besar adalah membangun arsitektur yang memungkinkan perdagangan, investasi, inovasi, dan berbagai peluang ekonomi berkembang jauh melampaui capaian yang tercermin dalam statistik saat ini.

Bagaimana Jika Terobosan Berikutnya Bukan Berasal dari Perjanjian Dagang?

Ketika Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke New Delhi pada Januari 2025, Indonesia dan India menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Pengembangan Digital. Cakupan kerja sama tersebut jauh melampaui aspek teknologi semata, meliputi Digital Public Infrastructure (DPI), kemitraan bisnis digital, keamanan siber, pengembangan kapasitas digital, hingga berbagai teknologi baru yang sedang berkembang. Di balik kesepakatan tersebut terdapat sebuah pemikiran yang sederhana namun sangat penting: bahwa fase berikutnya dari kerja sama ekonomi akan semakin ditentukan oleh kualitas infrastruktur digital yang menghubungkan pelaku usaha, masyarakat, dan pasar di era ekonomi digital.

Gagasan tersebut kini mulai diwujudkan melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, ION dikembangkan sebagai Digital Public Infrastructure (DPI) yang terbuka dan interoperabel untuk perdagangan digital di Indonesia. Alih-alih membangun sebuah marketplace baru, ION menghadirkan sebuah jaringan terbuka yang memungkinkan UMKM, koperasi, pedagang, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, penyedia logistik, dan berbagai platform digital saling terhubung melalui standar bersama, bukan lagi bekerja di dalam ekosistem yang terpisah-pisah.

Makna dari inisiatif ini jauh melampaui persoalan teknologi. Bagi jutaan pelaku UMKM di Indonesia, partisipasi dalam ekonomi digital selama ini masih sangat bergantung pada batasan-batasan yang ditetapkan oleh masing-masing platform digital. ION menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu sebuah jaringan terbuka yang memberikan kebebasan lebih besar bagi pelaku usaha dalam memilih cara mereka menjangkau pelanggan, menggunakan layanan logistik, maupun mengakses pembiayaan dan layanan keuangan. Dengan pendekatan seperti ini, koperasi kopi di Aceh, pelaku usaha perikanan di Maluku, atau pengrajin mebel di Jepara dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital tanpa harus bergantung pada satu ekosistem komersial tertentu. Inilah bentuk inklusi digital yang menurut saya perlu menjadi arah transformasi ekonomi digital Indonesia.

Atas dasar pemikiran tersebut, APINDO memutuskan untuk ikut menjadi bagian dari perjalanan ION. Indonesia tidak dapat menjadi negara yang semakin kompetitif hanya dengan mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar. Daya saing nasional juga sangat ditentukan oleh kemampuan jutaan UMKM memperoleh kesempatan digital yang sama seperti yang telah dinikmati perusahaan besar. Keyakinan inilah yang selama ini menjadi dasar berbagai program APINDO, termasuk UMKM Merdeka, sebuah inisiatif unggulan yang berfokus pada peningkatan kapasitas, daya saing, serta akses pasar bagi pelaku UMKM Indonesia. Melalui ION, semangat tersebut diperluas ke dalam ekonomi digital dengan menciptakan jaringan terbuka yang memungkinkan lebih banyak pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi, terhubung, dan berkembang.

Sejak akhir 2025, APINDO bekerja sama dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan MenengahKementerian Komunikasi dan Digital, serta berbagai mitra teknologi dari Indonesia dan India untuk mempersiapkan peluncuran ION. Inisiatif ini menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika kebijakan publik, inovasi sektor swasta, dan kolaborasi lintas negara berjalan ke arah yang sama. Sebagai anggota Dewan Penasihat ION, saya semakin meyakini bahwa nilai terbesar ION bukan terletak pada teknologinya semata. Nilai sesungguhnya berada pada apa yang sedang dibangun bersama oleh Indonesia dan India, yaitu mengadaptasi pengalaman India dalam mengembangkan jaringan digital terbuka ke dalam sebuah ekosistem Indonesia yang disesuaikan dengan kebutuhan, institusi, dan struktur ekonomi nasional kita sendiri. Di sinilah, menurut saya, hubungan Indonesia dan India diam-diam memasuki babak baru yang jauh lebih strategis.

Melampaui Bandhan

Dalam bahasa Sanskerta, Bandhan berarti ikatan yang dipelihara oleh rasa saling percaya, bukan sekadar oleh kepentingan sesaat. Makna tersebut sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia dan India, yang telah berkembang dari solidaritas diplomatik menjadi kemitraan ekonomi, dan kini bergerak menuju kolaborasi inovasi. Setiap generasi memiliki tanggung jawab yang berbeda. Tanggung jawab generasi kita bukan hanya menjaga hubungan baik yang telah diwariskan, tetapi juga menjadikannya semakin relevan bagi masa depan. Perdagangan akan terus tumbuh. Investasi akan tetap penting. Namun, kemitraan yang benar-benar bertahan adalah kemitraan yang meninggalkan institusi dan sistem yang mampu menciptakan peluang jauh setelah transaksi hari ini selesai.

Inilah alasan mengapa inisiatif seperti ION memiliki arti yang sangat penting. ION memperluas partisipasi, memperkuat ketahanan ekonomi, dan menempatkan UMKM sebagai bagian utama dari pertumbuhan ekonomi digital. Bagi APINDO, mendukung inisiatif ini sepenuhnya sejalan dengan keyakinan bahwa daya saing Indonesia pada akhirnya akan diukur bukan dari seberapa banyak perusahaan besar yang berkembang, melainkan dari seberapa banyak pelaku usaha—terutama UMKM—yang mampu menikmati manfaat kemakmuran nasional.

Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi berlangsung pada saat yang sangat penting bagi kedua negara. Hubungan Indonesia dan India telah mencapai tahap ketika peluang terbesarnya mungkin tidak lagi terletak pada apa yang diperdagangkan satu sama lain, melainkan pada apa yang dapat dibangun bersama. Lebih dari tujuh puluh tahun lalu, Samudra Hindia membawa semangat solidaritas yang membantu Indonesia menemukan tempatnya di dunia. Kini, lautan yang sama menghubungkan dua negara yang siap meninggalkan warisan baru: sebuah kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan, inovasi, dan kemakmuran bersama.

*Shinta Kamdani adalah Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dunia usaha Indonesia yang aktif mendorong peningkatan daya saing nasional, pengembangan UMKM, keberlanjutan, serta penguatan kerja sama ekonomi internasional, termasuk kemitraan strategis antara Indonesia dan India.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES