Gap Literasi Keuangan Masih 24 Poin, Dhiraj Kelly Dorong Masyarakat Memahami Risiko sebelum Berinvestasi

vritimes
7 Sep 2026 12:00
NASIONAL 0 7
4 menit membaca

JAKARTA, 7 September 2026 – Kemudahan membuka akun investasi, membeli aset keuangan, dan mengakses platform trading belum sepenuhnya diikuti kemampuan masyarakat memahami risiko yang harus ditanggung. Kondisi tersebut membuat edukasi mengenai biaya, potensi kerugian, profil risiko, dan pengelolaan modal semakin mendesak.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan masih berada di angka 69,57 persen.

Selisih 24,04 poin persentase tersebut menunjukkan bahwa tingginya penggunaan produk dan layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi tingkat pemahaman yang setara. Masyarakat dapat memiliki akses terhadap suatu produk, tetapi belum tentu memahami cara kerjanya, struktur biaya, tingkat risiko, maupun kesesuaiannya dengan kondisi keuangan pribadi.

Kesenjangan itu dapat memengaruhi kualitas keputusan finansial. Tanpa pemahaman yang memadai, seseorang berisiko memilih produk yang tidak sesuai, menggunakan dana kebutuhan untuk investasi berisiko tinggi, mengambil posisi trading berlebihan, atau mengikuti promosi keuntungan tanpa mempertimbangkan kemungkinan kerugian.

“Masalah yang dihadapi masyarakat saat ini bukan lagi sekadar sulit memperoleh akses. Produk keuangan sudah tersedia melalui telepon genggam, tetapi akses yang mudah perlu diikuti kemampuan menilai risiko dan mengambil keputusan secara rasional,” ujar Dr. Dhiraj Kelly.

Membantu Masyarakat Mengajukan Pertanyaan yang Tepat

Sebelum menempatkan dana, masyarakat perlu memahami tujuan keuangan, jangka waktu, kemampuan menanggung kerugian, dan karakteristik produk yang akan digunakan. Keputusan investasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada potensi keuntungan atau rekomendasi figur tertentu.

Beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab antara lain:

Apakah produk tersebut dipahami dengan baik?Apa risiko terburuk yang mungkin terjadi?Berapa besar kerugian yang masih sanggup ditanggung?Apakah dana yang digunakan merupakan dana dingin?Berapa biaya transaksi dan biaya lainnya?Apakah keputusan dibuat berdasarkan analisis atau tekanan emosional?Bagaimana rencana jika hasilnya tidak sesuai harapan?

Menurut Dhiraj, kemampuan mengajukan pertanyaan tersebut dapat membantu masyarakat menghindari keputusan impulsif. Edukasi keuangan harus membentuk proses berpikir, bukan sekadar memberikan daftar instrumen atau prediksi pergerakan harga.

“Setiap orang memiliki tujuan, kondisi modal, dan toleransi risiko yang berbeda. Karena itu, sebuah strategi yang berhasil bagi seseorang belum tentu tepat untuk orang lain,” katanya.

Risiko Perlu Dibahas Sejelas Peluang Keuntungan

Informasi mengenai investasi dan trading di media sosial sering kali lebih menarik ketika menampilkan keuntungan. Namun, masyarakat juga membutuhkan penjelasan yang seimbang mengenai kerugian, volatilitas, drawdown, leverage, biaya transaksi, dan tekanan psikologis ketika menghadapi perubahan pasar.

Untuk memperluas akses terhadap pembahasan tersebut, kanal YouTube Dr. Dhiraj Kelly menghadirkan konten mengenai investasi, trading, pengelolaan portofolio, manajemen risiko, psikologi keuangan, serta strategi membangun pendapatan secara berkelanjutan.

Materinya diarahkan untuk membantu audiens memahami alasan di balik suatu keputusan finansial. Pembahasan tidak hanya mencakup peluang, tetapi juga skenario kerugian, batas risiko, kesalahan yang perlu dihindari, dan langkah evaluasi setelah keputusan diambil.

Topik yang dibahas meliputi pengenalan profil risiko, money management, pengendalian drawdown, perbedaan investasi dan spekulasi, psikologi ketika menghadapi keuntungan maupun kerugian, serta evaluasi terhadap keputusan finansial yang tidak berjalan sesuai rencana.

Pengalaman Kegagalan Menjadi Bahan Pembelajaran

Selain membahas konsep, kanal tersebut juga mengangkat pengalaman nyata dalam menjalankan bisnis, berinvestasi, dan menghadapi kerugian. Pendekatan ini dipilih agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih seimbang mengenai konsekuensi dari setiap keputusan.

Menurut Dhiraj, keterbukaan membahas kegagalan diperlukan karena edukasi finansial akan terasa tidak lengkap apabila hanya menampilkan keberhasilan. Dari kasus nyata, audiens dapat mempelajari penyebab kesalahan, dampak keputusan, proses evaluasi, dan cara membangun kembali disiplin finansial.

Konten dikemas dalam bentuk analisis, studi kasus, wawancara dengan praktisi, dan pembahasan perkembangan pasar. Kanal tersebut ditujukan bagi investor pemula, trader, pengusaha, profesional, serta masyarakat umum yang ingin memperbaiki kualitas keputusan keuangannya.

Untuk menjaga konsistensi edukasi, kanal Dr. Dhiraj Kelly menargetkan publikasi 8–10 video berdurasi panjang setiap bulan. Namun, jumlah tayangan dan pelanggan bukan satu-satunya ukuran. Dampak konten juga dinilai dari kemampuannya membantu audiens memahami risiko sebelum mengambil keputusan.

Menempatkan Perlindungan Modal sebagai Prioritas

Pengembangan kanal ini menjadi bagian dari semangat Riskwise Community, yaitu “Manage Risk. Protect Capital. Trade Smarter.” Prinsip tersebut menempatkan pengelolaan risiko dan perlindungan modal sebagai fondasi sebelum mengejar pertumbuhan keuntungan.

Masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menempatkan dana hanya karena melihat potensi imbal hasil. Keputusan perlu disesuaikan dengan tujuan, kondisi keuangan, kebutuhan likuiditas, serta kemampuan menghadapi kerugian.

Seluruh konten yang dipublikasikan bersifat edukatif dan bukan rekomendasi personal untuk membeli atau menjual instrumen tertentu. Investasi dan trading tetap memiliki risiko, sedangkan setiap keputusan menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Video edukasi dapat diakses melalui kanal YouTube resmi:

https://www.youtube.com/@dhirajkelly

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES