Tigo Bawa Produksi Short Drama ke Level Baru: 100 Episode Bisa Dibuat dalam 1 Hari

vritimes
15 Agu 2026 12:46
NASIONAL 0 18
4 menit membaca

Tigo resmi meluncurkan layanan “100 Episode Short Drama dalam 1 Hari” di Indonesia pada Agustus 2026 untuk membantu brand, UMKM, content entrepreneur, dan kreator individu memproduksi short drama dengan lebih cepat, terstruktur, dan dalam skala besar. Layanan ini hadir karena produksi short drama tradisional biasanya membutuhkan banyak tenaga profesional, waktu, serta biaya yang cukup besar. Melalui sistem berbasis artificial intelligence, Tigo mengintegrasikan proses pembuatan naskah, desain karakter, pembuatan adegan, visual video, voice-over, subtitle, hingga post-production dalam satu workflow. Dengan sistem produksi yang telah distandardisasi, Tigo menargetkan kapasitas hingga 100 episode dalam satu hari, sekaligus memungkinkan pengguna menguji lebih banyak ide cerita, karakter, dan genre untuk menyesuaikan konten dengan respons audiens di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

akarta, Indonesia, Agustus 2026 — Platform produksi konten berbasis AI, Tigo, resmi meluncurkan layanan baru “100 Episode Short Drama dalam 1 Hari”. Layanan ini memanfaatkan artificial intelligence untuk membantu mempercepat proses produksi short drama, mulai dari pembuatan naskah, desain karakter, pembuatan adegan, visual video, voice-over, subtitle, hingga post-production.

Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya Tigo membangun sistem produksi short drama yang lebih terstruktur dan dapat digunakan dalam skala besar.

Dalam produksi tradisional, pembuatan short drama biasanya melibatkan banyak tenaga profesional, seperti penulis naskah, sutradara, aktor, tim kamera, lighting, editor, hingga pengisi suara. Selain membutuhkan banyak sumber daya, proses tersebut juga membutuhkan waktu dan biaya produksi yang relatif besar.

Bagi UMKM, content entrepreneur, dan kreator individu, kondisi tersebut sering menjadi hambatan untuk menghasilkan konten secara konsisten.

Melalui workflow berbasis AI, Tigo mencoba menyederhanakan berbagai proses tersebut dalam satu sistem produksi. Berdasarkan genre, target audiens, dan kebutuhan platform, AI dapat membantu menyusun struktur cerita, hubungan antar-karakter, konflik utama, serta alur setiap episode.

Teknologi yang sama juga digunakan untuk membuat karakter dan berbagai latar cerita, mulai dari rumah, sekolah, kantor, perkotaan, hingga dunia futuristik. Setelah itu, visual dapat dikembangkan menjadi video dan dilengkapi dengan dialog, voice-over, subtitle, serta proses editing.

Dengan sistem produksi yang telah distandardisasi, Tigo menargetkan kapasitas produksi hingga 100 episode short drama dalam satu hari.

Menurut perusahaan, konsep tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan konten dalam jumlah besar. Produksi yang lebih cepat juga memungkinkan kreator dan brand melakukan pengujian terhadap berbagai ide cerita, karakter, dan genre untuk mengetahui jenis konten yang mendapatkan respons terbaik dari audiens.

Model produksi seperti ini dinilai semakin relevan di tengah berkembangnya platform short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Di platform tersebut, konsistensi produksi menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan perhatian audiens.

Tigo menyatakan layanan ini tidak hanya ditujukan untuk perusahaan film dan rumah produksi. Brand dapat memasukkan produk dan cerita merek ke dalam serial short drama, sehingga promosi dapat dikemas melalui storytelling dan tidak hanya berupa iklan langsung.

Bisnis lokal di sektor kuliner, kecantikan, pariwisata, dan pendidikan juga dapat memanfaatkan format short drama untuk membuat konten pemasaran. Sementara itu, kreator individu dapat menggunakan teknologi AI untuk mengembangkan karakter, cerita, serta intellectual property mereka sendiri.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk perkembangan AI short drama karena tingginya aktivitas masyarakat di media sosial dan semakin populernya video pendek, live streaming, e-commerce, serta konten berbasis cerita.

“Dulu, memproduksi 100 episode short drama berarti membutuhkan biaya untuk aktor, lokasi, sinematografi, sutradara, dan post-production dalam jumlah besar. AI sedang mendefinisikan ulang proses tersebut. Kami berharap ke depannya, seorang kreator biasa, sebuah usaha kecil, bahkan satu orang saja dapat memiliki kemampuan produksi yang sebelumnya hanya dimiliki perusahaan konten profesional,” ujar perwakilan Tigo.

Ke depan, Tigo akan terus mengembangkan konsistensi karakter AI, voice-over multibahasa, template short drama, product placement untuk brand, serta kemampuan produksi konten dalam skala besar. Dengan pengembangan tersebut, Tigo ingin membuat produksi short drama lebih mudah diakses oleh brand, UMKM, maupun kreator independen.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES